Islamic Widget

Laman

Selasa, 28 September 2010

When Love Come Over Me

Ketika Cinta Menghampiri Diri

Puisi Oleh: Ahmad Wali Radhi


Allahu Rabbul Izzati…
Jika Cinta kan menghampiri diri
Jangan biarkan Cinta kepada-Mu hilang di hati..
Perkenankanlah selalu tuk selalu Mencintai-Mu..
Sepenuh hati dan Ketulusan diri

Allahu Rabbul Izzati…
Hanya kepada-Mu Cinta Hakiki
Cinta yang mengantarkan Keindahan sesungguhnya…
Cinta dengan kebersihan jiwa hati..
Cinta untuk mendapatkan Keridhoan-Mu

Allahu Rabbul Izzati…
Cinta itu pasti kan datang menghampiri diri
Berikanlah Cinta kepada seorang insan mulia..
Yang didalam dirinya selalu ada keinginan..
Keinginan dengan tujuan Keridhoan-Mu
Itulah Bidadari Surga Dunia..

Bidadari Surga Dunia..
Berhiaskan Iman dan Taqwa
Wajah indah berseri..
Karena air wudhu keseharian dirinya.

Bidadari Surga Dunia..
Idaman semua wanita sholihah
Cerminan seorang berhati mulia
Yang selalu terpatri dalam dirinya..

Bidadari Surga Dunia..
Ada cahaya yang terpancar di wajah
Menerangi dunia dengan sinar yang menyilaukan
Karena Kemulian dan Keindahan dirinya……

Bidadari Surga Dunia..
Dengan rona merah di wajah
Dengan Senyum semanis madu
Yang selalu menghiasi kecantikannya…

Bidadari Surga Dunia..
Akhlaqul karimah perhiasan dunia
Ilmu sebagai jalan menuju surga..
Dunia menjadi ladang akhirat bagi dirinya
Untuk mencapai Cinta Allah Ta’ala…

Allahu Rabbul Izzati…
Dalam dunia yang merana…
Dunia yang nantinya kan binasa
Dunia kerakusan dan keserakahan manusia..
Dapatkah bertemu dengan dirinya..
Mencintai seorang Bidadari Surga Dunia…
Mencintai karena untuk mendapatkan Keridhoan-Mu

Allahumma Rabbanaa Aamiin….

Note : artikel diambil dari situs dakwatuna


Selasa, 21 September 2010

Sabar dan Syukur


Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak. (Sahabat 'Ali) ^_^......

Sabar memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah. (Ibnu Mas’ud)

Bahwa ujian dan cobaan di dunia merupakan sebuah keharusan yang (siapa pun) tidak bisa terlepas darinya. Bahkan, itulah warna-warni kehidupan. Kesabaran dalam menghadapi ujian dan cobaan merupakan tanda kebenaran dan kejujuran iman seseorang kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Al Imam Ibnul Qayyim mengatakan bahwa sabar setengah dari keimanan dan setengahnya lagi adalah syukur.

Dalam Al Qur’an, Sabar merupakan Perintah Mulia dari Rabb Yang Maha MuliaAllah SWT berfirman (artinya):

“Wahai orang-orang yang beriman mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat,..” (Al-Baqarah: 153)
dalam ayat yang lain (artinya):“Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu,…” (Ali Imran: 200)

Credit : abdur rouf

Teruntuk Muslimah


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jika engkau tidak berusaha menjadi seperti Fathimah, mengapa engkau berharap bisa mendampingi pemuda seperti Ali ?

Jika engkau tidak berusaha shalih seperti Rasulullah shalaAllahu ‘alaihi wassalam, mengapa engkau berharap mendapatkan wanita seperti ‘Aisyah ?

Berharap memang tak salah. Seorang pencuri sah – sah saja berharap anaknya tidak tumbuh menjadi pencuri. Ada salah satu saudara kita yang malas diajak sholat jama’ah ke masjid, malas mendatangi majelis ilmu malah menghabiskan waktu dalam hal yang sia-sia. Bahkan ada juga yang kurang menjaga pergaulannya, merasa bebas berhubungan dengan lawan jenis. Namun, mereka tidak akan menikah kecuali dengan istri/suami yang shalih/ah dan pandai dalam din. Mereka mendambakan suami/istri yang tidak pernah bergaul bebas dengan lawan jenis. Mereka menginginkan istri yang suci bagai bidadari turun dari surga.Sebagaimana pula saudari-saudari kita, mereka yang menginginkan suami yang selembut Abu Bakar, yang setegas `Umar Ibnul Khoththob, yang sekaya `Utsman Ibnul Affan, atau setangkas `Ali ibnu Abi Thalib.

Namun anehnya, bagi saudari-saudari kita tersebut, tidak ada usaha untuk memperbaiki diri semisal meniru kebijaksanaan Khadijah , kepandaian ‘Aisyah, ketangguhan Fathimah, atau keikhlasan Sumayyah.Begitu juga dengan saudara kita para ikhwan yang menginginkan istri sepandai para istri nabi, sebagus akhlaq muslimah di zaman Rasul, namun dalam dirinya tidak ada usaha untuk lebih shalih, lebih pandai, dan lebih menuju akhirat.Memang berharap itu tidak salah. Seorang pencuri sah – sah saja berharap anaknya tidak tumbuh menjadi pencuri, namun apakah jikaanak tersebut tumbuh menjadi ‘ulama misalnya, apakah mampu membebaskan bapaknya dari hukuman penjara ? Apakah suami yang shalihdan istri yang shalihah bisa menyelamatkan kita dari Naar jika kita sendiri tidak berusaha menjauhi Naar ?

“ Allah telah menjadikan istri nabi Nuh dan istri nabi Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya dibawah pengawasan dua hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami. Lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminyaitu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada keduanya) `masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk` (neraka) “(QS. At Tahrim : 10)

“ Dan Allah menjadikan istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata ` Ya Rabbi, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim “(QS. At Tahrim :11)

“ (Dan ingatlah) Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan dalam rahimnya sebagaian dari ruh (ciptaan)Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan kitab-kitabNya dan dia termasuk orang-orang yang ta’at”(QS. At Tahrim : 12)

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu

(Ditulis oleh ID: Ummu `Ibaadurrahmaan)


Credit : renungan kisah inspiratif muslimah

Pernikahan Sebuah Fitrah Kemanusiaan


Agama Islam adalah agama fithrah, dan manusia diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala cocok dengan fitrah ini, karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh manusia menghadapkan diri ke agama fithrah agar tidak terjadi penyelewengan dan penyimpangan. Sehingga manusia berjalan di atas fithrahnya. Perkawinan adalah fitrah kemanusiaan, maka dari itu Islam menganjurkan untuk nikah, karena nikah merupakan gharizah insaniyah (naluri kemanusiaan). Bila gharizah ini tidak dipenuhi dengan jalan yang sah yaitu perkawinan, maka ia akan mencari jalan-jalan syetan yang banyak menjerumuskan ke lembah hitam.

Firman AllAh Subhanahu wa Ta’ala , yang artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS: Ar-Ruum: 30).

A. Islam Menganjurkan Nikah

Islam telah menjadikan ikatan perkawinan yang sah berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang Islami. Penghargaan Islam terhadap ikatan perkawinan besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (HR: Thabrani dan Hakim).

B. Islam Tidak Menyukai Membujang

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras kepada orang yang tidak mau menikah. Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata: “Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras”. Dan beliau bersabda yang artinya:“Nikahilah perempuan yang banyak anak dan penyayang. Karena aku akan berbangga dengan banyaknya umatku dihadapan para Nabi kelak di hari kiamat”. (HR: Ahmad dan di shahihkan oleh Ibnu Hibban).

Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada istri-istri Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam tentang peribadatan beliau, kemudian setelah diterangkan, masing-masing ingin meningkatkan peribadatan mereka. Salah seorang berkata: Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus. Dan yang lain berkata: Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya …. Ketika hal itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau keluar seraya bersabda, yang artinya: “Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu, sungguh demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga mengawini perempuan. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku”. (HR: Bukhari dan Muslim).

Orang yang mempunyai akal dan bashirah tidak akan mau menjerumuskan dirinya ke jalan kesesatan dengan hidup membujang. Kata Syaikh Hussain Muhammad Yusuf: “Hidup membujang adalah suatu kehidupan yang kering dan gersang, hidup yang tidak mempunyai makna dan tujuan. Suatu kehidupan yang hampa dari berbagai keutamaan insani yang pada umumnya ditegakkan atas dasar egoisme dan mementingkan diri sendiri serta ingin terlepas dari semua tanggung jawab”.

Orang yang membujang pada umumnya hanya hidup untuk dirinya sendiri. Mereka membujang bersama hawa nafsu yang selalu bergelora, hingga kemurnian semangat dan rohaninya menjadi keruh. Mereka selalu ada dalam pergolakan melawan fitrahnya, kendatipun ketaqwaan mereka dapat diandalkan, namun pergolakan yang terjadi secara terus menerus lama kelamaan akan melemahkan iman dan ketahanan jiwa serta mengganggu kesehatan dan akan membawanya ke lembah kenistaan.

Jadi orang yang enggan menikah baik itu laki-laki atau perempuan, maka mereka itu sebenarnya tergolong orang yang paling sengsara dalam hidup ini. Mereka itu adalah orang yang paling tidak menikmati kebahagiaan hidup, baik kesenangan bersifat sensual maupun spiritual. Mungkin mereka kaya, namun mereka miskin dari karunia Alloh.

Islam menolak sistem ke-rahib-an karena sistem tersebut bertentangan dengan fitrah kemanusiaan, dan bahkan sikap itu berarti melawan sunnah dan kodrat AllohSubhanahu wa Ta’ala yang telah ditetapkan bagi makhluknya. Sikap enggan membina rumah tangga karena takut miskin adalah sikap orang jahil (bodoh), karena semua rezeki sudah diatur oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala sejak manusia berada di alam rahim, dan manusia tidak bisa menteorikan rezeki yang dikaruniakan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, misalnya ia berkata: “Bila saya hidup sendiri gaji saya cukup, tapi bila punya istri tidak cukup ?!”.

Perkataan ini adalah perkataan yang batil, karena bertentangan dengan ayat-ayat Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Alloh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk kawin, dan seandainya mereka fakir pasti Allah akan membantu dengan memberi rezeki kepadanya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan suatu pertolongan kepada orang yang nikah, dalam firman-Nya, yang artinya: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS: An-Nur: 32).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguatkan janji Allah itu dengan sabdanya, yang artinya: “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka, dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR: Ahmad 2: 251, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits No. 2518, dan Hakim 2: 160 dari shahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu).

Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu pernah berkata: “Jika umurku tinggal sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah daripada aku harus menemui Allah sebagai seorang bujangan”. (Tuhfatul ‘Arus hal. 20).



Credit : Catatan Renungan Kisah Inspiratif Muslimah




Seuntai Doa Untuk Yang Sedang Milad

Bissmillah...

Ya Allah, kutitipkan sebuah ’kado’ untuk saudaraku yang milad.

Ini memang bukanlah bingkisan yang berisi barang mahal, istimewa, atau barang lainnya.

Ini hanyalah sebuah ’kado’ yang tak ada harganya, bila diperhitungkan dengan nominal uang.

Sebuah kesederhanaan dalam ’kado’ ini berupa untaian kalimat doa yang benar-benar tulus, mudah-mudahan ini menjadi sebuah kebaikan untuknya Ya Rabb...

Yaa.. Rabbana, berilah segala kebaikan dan yang terbaik dalam hidupnya.

Berikan kemudahan dalam setiap aktivitasnya,Karuniakan kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan..dunia dan akhirat

Perkenankanlah segala apa yang ia cita-citakan...

Tetapkanlah padanya kesabaran tatkala ia menghadapi ujian, kelapangan dalam kesempitan, kemudahan dalam kesulitan, dan jalan keluar untuk setiap permasalahan dalam hidupya...

Lindungilah ia, jauhkan hal-hal buruk darinya...

Bimbinglah ia selalu, agar senantiasa berada di jalan yang lurus, dan istiqamahkan dalam kebenaran.

Ridhoilah ia, berkahi setiap langkahnya, dan jauhkan dari maksiat kepadaMu.

Ampuni dosa-dosanya, dan lindungi dari lupa bersyukur kepadaMu.

Sehingga pada bertambahnya usia, semoga makin bertambah pula derajat ketakwaannya.

Amin, Allahuma amin.

Ya Rabb, Tiada Tuhan Selain Engkau.

Yang Maha Mengetahui hajat hambaNya,Engkaulah sebaik-baik pelindung, dan sebaik-baik penolong.

Kabulkan doa ini.

Dan berikan kebaikan yang sama bagiku yang mendoakannya.

Amin.


Jumat, 28 Mei 2010

Waktu Dalam Kehidupan Muslim

Kewajiban muslim terhadap waktu :
  1. Menjaga manfaat waktu
  2. Tidak menyia-nyiakan waktu
  3. Mengisi kekosongan dengan hal yang bermanfaat
  4. Berlomba-lomba dalam hal kebaikan
  5. Belajar dari perjalanan dari hari ke hari (Q.S. Ali-Imran: 190)
  6. Mengatur waktu sebaik-baiknya
Empat kondisi waktu yang penting :

  1. Munajat pada sang Khaliq
  2. Muhasabah
  3. Tadabbur
  4. Memenuhi hak-hak tubuh
Ciri seorang muslim yang baik :
  1. Jika mendapat kebahagiaan : Bersyukur
  2. Jika mendapat kesengsaraan : Bersabar
  3. Jika mendapat ketaatan : Memohon untuk tetap istiqomah
  4. Jika mendapat kemaksiatan : Bertaubat

Pesanggih

Hai ...hai...
Sebenarnya ini pengalaman aqu di hari kemarin. Tepatnya pada acara pernikahan teman qu (yang ngadain prosesi siraman dua hari lalu). Ada yang menarik pada acara tersebut. Tentunya aqu mengikuti dari proses awal akad nikah. Mempelai pria mengucapkan ijab-qabul dari wali mempelai wanita dengan mantap. Jadi bergetar mendengarnya. Menunjukkan keyakinannya pada calon mempelai wanita yang akan dipinang (apalagi kalo aqu dengar calon suami qu mengucapkan janji ijab-qabul ya..pasti bisa nangis deh..it's amazing moment in life).

Setelah itu prosesi sungkeman dan foto-foto (mumpung lagi jadi ada pengantin, pada narziz). Sebelum naik ke pelaminan untuk disandingkan, kedua mempelai harus melewati rangkaian adat jawa (maklum, yang jadi penganting wong jawa). Salah satunya adalah Pesanggih (mudah2an bener tulisan dan lafadznya). Sebenarnya kurang ngerti juga maksud dan tujuan dari rangkaian adat ini. Tapi aqu akan mendeskripsikan urutan acaranya.
Awalnya kedua mempelai di pisah untuk kemudian dipertemukan. Mereka berjalan dari kedua arah yang berlawanan kemudian dipertemukan pada sebuah titik. Didampingi keluarga dari kedua belah pihak, kedua mempelai berjalan perlahan. Ketika dipertemukan, mempelai pria melempar kembang. Ujar pemandu adat, sang mempelai pria tidak boleh salah lempar. Harus tepat sasaran pada mempelai wanita. Kalau salah lempar, nanti cintanya terbagi (itu kata pemandu adatnya lhoo). Setelah itu prosesi menginjak telur. Mempelai pria menginjak telur lalu kakinya dibersihkan oleh mempelai wanita. Itu sebagai wujud tanda bakti seorang istri terhadap suami. Selesai itu, kedua mempelai digiring ke pelaminan. Sebelum duduk dipelaminan, kedua mempelai dipangku oleh wali mempelai wanita (seharusnya dipangku oleh ayahanda mempelai wanita, tapi karena ayahanda mempelai wanita telah tiada jadi diwakilkan). Ketika ditanya, "Lebih berat yang mana ?", " Sama berat" jawab wali mempelai wanita (pasti kakinya ringsek gara2 mangku kedua mempelai..hehe). Hal ini menunjukkan bahwa keluarga tidak membedakan kasih sayang. Baik menantu atau anak sendiri tetap diberi kasih sayang seperti anak kandung.

Kemudian kedua mempelai suap-suapan. Tapi bukan perebutan ayam, mereka cuma minum dari gelas. Tapi saling suap-suapan. Seru juga liatnya. Terakhir, acara bagi-bagi rejeki. Disini, diibaratkan seorang suami yang pulang kerja membawa rejeki untuk keluarga tercinta. Tapi rejekinya tidak hanya untuk keluarga inti tapi juga memberikan keberkahan untuk keluarga yang lain. Jadi di gambarkan, salah seorang pemandu adat berjalan sambil berjoget diiringi lagu khas jawa sambil memanggul pikulan berisi perkakas rumah tangga. Ada panci, penggorengan, ulekan, baskom, piring, parutan, sendok kue, sodet, dll. Pemandu adat tersebut berjalan sambil berjoget ria sampai ke pelaminan. sesampainya di pelaminan, pikulan tersebut boleh diperebutkan oleh para tetamu. Ini juga simbol keberkahan. Bagi gadis yang belum dapat jodoh bila mendapat salah satu perkakas tersebut bisa segera mendapatkan jodohnya. Bagi ibu-ibu yang belum punya menantu bisa segera dapat menantu.

Tapi kalau bagi aqu siy cuma sekedar ngeramein acara aja sembari mengharapkan bisa dapat salah satu dari perkakas tersebut (lumayan buat nambah koleksi dapur mommy). Niat awal siy mau ikutan perebutan. Tapi apa daya niat tak kesampaian. Gara-gara liat ibu-ibu yang sangar abis mau ikutan perebutan (lebih sangar daripada anak mudanya) hati jadi ciut duluan. Takut kesenggol jatuh. Secara ibu-ibu lebih pengalaman perebutan barang-barang diskon..hehehe. Mana pakai sepatu hak 5 cm, lumayan khan kalau jatuh bisa lecet. Akhirnya duduk manis di kursi tamu sambil ngeliat orang-orang pada perebutan.
Tiba-tiba dari arah depan ada yang menghampiri sambil berujar, "Ka, ini buat kakak". Ternyata adik mempelai wanita memberikan baskom koleksi perkakas yang jadi perebutan ibu-ibu itu. Sumringah menyambutnya, "Terimakasih adik cantik, kamu memang baik. Masih aja ingat sama kakakmu yang satu ini".

Tidak beberapa lama kemudian, "Ini bagian buat kamu". Seorang teman menyodorkan sebuah perkakas sendok kue. Kembali berkembang senyumku. Emang rejeki ga akan kemana, batinku. Ternyata Allah mendengar jeritan hatiku (lebay..) bahwa diri ini tak sanggup untuk perebutan jadi Ia menyampaikan rejeki itu lewat orang lain. Alhamdulillah.

Kemudian salah seorang teman berujar, " Kalau perkakasnya diambilin melalui orang lain, berarti kamu ga ada usaha donk untuk nyari jodoh dengan caramu sendiri? ". Ternyata ia mengaitkan rejeki perkakas itu dengan simbol bahwa anak gadis akan segera dapat jodoh kalau bisa dapat salah satu dari koleksi perkakas itu (padahal bagi aqu cuma sekedar nambahin koleksi dapur emak..wkakaka). Dengan tenang aqu jawab " Ada kok usahanya, khan aqu udah minta sama Allah lewat doa. Kemudian Ia mengabulkannya lewat seseorang yang menjadi perantara untuk memuluskan jalanku mencari jodoh. Jadi aqu ga pakai proses pacaran".

Over all..seru juga mengikuti serangkaian acara tersebut. Tapi bagi aqu, my wedding just chiq n simple.

Thats all 4 today.. see u